Hingga Allah yang Berkata ‘Cukup’

Kali ini tubuh ringkihnya bersimpuh diatas tempat sujudnya, mengalir deras airmata mendoakan keselamatan untuk negri yang dipimpinnya, hampir setiap hari terdengar kabar beberapa orang dari rakyatnya meninggal karena wabah penyakit yang menimpa negri Syam, dan setiap hari pula dia dengar banyak dari rakyatnya yang terjangkit penyakit mematikan itu. gemetar tangan dan kakinya, bercucuran keringat dikening karena kekhawatiran akan kondisi rakyat yang dia pimpin, lantunan doa terus mengalir menghiasi setiap waktu yang dilaluinya, namun semua tidak merubah rasa syukur kepada Rabbnya, rasa syukur yang terukir dalam setiap nafas berbalutkan kesabaran, yang terus melahirkan pujian – pujian indah bagi sang pencipta.
.
.
.
Dalam keheningan suasana dzikir yang membawanya menyerahkan seluruh keluh kesah kepada Rabbnya itu, pun terdengar sayup – sayup tapak kuda, semakin lama suara itu semakin jelas mendekat. Dan tak berapa lama, suara ketukan pintu terdengar disusul ucapan salam ta’zhim dari tamu tersebut. Beliau mengisyaratkan kepada istrinya untuk membukakan pintu dan sang istri segera bangkit dari duduknya dan membukakan pintu kepada tamu suaminya itu. .
.
.
Sang tamu itu pun mendekat, “Assalamu’alaikum wahai abu ‘ubaidah, aku merupakan utusan amirul mukminin ‘Umar bin Khattab datang untuk menyampaikan salam dan surat ini kepadamu”. Tangan gemetar itu meraih segulung surat dari pemimpin tertinggi kaum muslimin, dibukanya gulungan itu dan ditatapnya lamat – lamat kata – kata sang pimpinan yang juga merupakan sahabat terbaiknya. Dan sampailah ia pada isi surat itu: “Wahai abu ‘Ubaidah, aku telah mengetahu kabar tentang wabah penyakit yang sedang menimpa negri yang kau pimpin, maka jelas bagiku keputusanku, bahwa aku tidak membutuhkan engkau tetap bertahan disana, maka kemarilah bersamaku disini agar engkau terhindar dari wabah penyakit itu”.

.

.

Semburat senyum terlihat dari wajahnya, dan beliau berkata kepada utusan amirul mukminin, “Aku sudah mengetahui apa yang di inginkan oleh amirul mukminin, sesungguhnya amirul mukminin menginginkan agar aku terhindar dari kematian, padahal bagaimanapun juga kematian akan tetap menghampiriku”. Maka beliau pun menulis surat balasan kepada amirul mukminin, “Bismillah, wahai Amirul mukminin, aku telah mengetahui keinginanmu untuk menjadikan kekal seseorang yang tidak kekal, maka izinkanlah aku untuk tetap bertahan disini, aku hanyalah seorang prajurit dari sekian banyak prajurit kaum muslimin, aku tidak ingin wabah penyakit yang menimpa mereka dan negriku ini menjadikanku menjauhi dan meninggalkan mereka”. Balasan itupun sampai kepada Umar ibnul Khattab, Umarpun menangis, tak sanggup membayangkan sahabat terbaiknya ada di ambang kematian bertahan demi menjaga amanah yang telah dibebankan kepadanya. Rasa sedih bercampur bangga memiliki sahabat, pemimpin dan prajurit seperti Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah.

Panas angin padang pasir negri syam berhembus, mengabarkan wafatnya salah satu manusia terbaik ummat ini, Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah sang Aminul Ummah. Beliau meninggal dikarenakan wabah penyakit ‘Imawas (طاعون عمواس). Wabah penyakit yang menyerang satu kota bernama ‘Imawas, kota yang terletak antara kota Ar Ramlah dan Kota Baitul Maqdis. Beliau meninggal pada tahun 18 Hijriyah di usianya yang ke 58 tahun menurut sebagian ahli sejarah.

Radliyallahu ta’ala ‘anhum, semoga Allah meridlaimu wahai Abu ‘Ubaidah Ibnul Jarrah. Dan semoga kita semua mampu mengikuti jejak mereka berpegang teguh diatas Al Qur’an dan As Sunnah.

Diambil dan disarikan dari kitab Siyar A’lam An Nubalaa’ karya Imam Adz Dzahabi Rahimahullahu Ta’ala.

Bekasi.
24 Oktober 2017

Abah Lukman

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *